Sumbernayar, 24 Juni 2025. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) tidak semata-mata berfungsi sebagai tanaman hias atau pelengkap estetika pekarangan rumah. Lebih dari itu, TOGA memiliki peran strategis dalam sistem pengobatan tradisional, khususnya untuk menangani keluhan kesehatan ringan, melakukan tindakan preventif terhadap penyakit, serta menunjang perawatan kesehatan harian secara alami dan minim efek samping. Potensi ini menjadi penting dalam konteks pengembangan sistem kesehatan berbasis kemandirian masyarakat.
Pemanfaatan TOGA di Desa Sumberanyar diorientasikan sebagai bentuk penguatan konsep self-care, yakni pengelolaan kesehatan secara mandiri tanpa ketergantungan total pada layanan medis modern. Melalui pemanfaatan tanaman obat yang mudah diakses, masyarakat dapat secaraPEMANFAAT aktif mengambil peran dalam menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan mereka sendiri, khususnya dalam penanganan gejala awal dan pencegahan penyakit.
Sebagai bentuk konkret komitmen terhadap kemandirian kesehatan masyarakat, Pemerintah Desa Sumberanyar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membudidayakan tanaman obat keluarga. Kegiatan ini diharapkan mampu menyediakan alternatif pengobatan tradisional yang mudah diolah dan dikonsumsi oleh masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pembangunan desa sehat yang berbasis kearifan lokal.

Kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) bersama perangkat desa, serta didampingi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), mengadakan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi penanaman TOGA kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman praktis tentang cara budidaya serta pengolahan tanaman obat secara mandiri di lingkungan rumah tangga.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sumberanyar Siti Devita Sari menyampaikan bahwa "keberadaan TOGA harus menjadi komponen wajib di setiap desa hingga ke dusun. Namun kendala yang dihadapi dalam perawatan tanaman, khususnya terkait ketersediaan air yang masih terjangkau. Pemerintah desa berkomitmen untuk terus mengupayakan solusi atas permasalahan tersebut guna mendukung keberlanjutan budidaya TOGA di wilayahnya dengan harapan tercipta ekosistem desa sehat yang ditopang oleh sumber daya alam lokal," Jelasnya.
Adapun keunggulan pengobatan berbasis TOGA terletak pada sifatnya yang alami, minim efek samping, serta kaya akan khasiat yang telah terbukti secara empiris. Beberapa praktik yang telah diterapkan masyarakat setempat antara lain penggunaan daun sirih untuk pembuatan minyak antiseptik serta pemanfaatan kulit jeruk sebagai bahan alami pengusir nyamuk. Inisiatif semacam ini mencerminkan pentingnya pelestarian pengetahuan lokal sebagai basis sistem kesehatan alternatif yang berkelanjutan dan inklusif.